Takut Membuat Kesalahan

Kesalahan terbesar yang kita perbuat dalam hidup ini
adalah takut membuat kesalahan – John Maxwell

—-
Sinta ingin sekali mencoba menjadi pembawa acara dalam
acara seminar mahasiswa di kampus bulan depan. Tapi ia
selalu ragu-ragu untuk melakukannya. Ia takut sekali.
Apalagi Sinta memang pemalu dan tidak terlalu pandai


bicara.

Ketika saya diundang sebagai pembicara untuk seminar
lain di kampus yang sama, saya berkesempatan bertanya
langsung padanya, “Sebenarnya apa yang kamu takutkan?”
Ia menjawab, “Takut menghadapi orang banyak.” Saya
tanya lagi, “Memangnya orang banyak akan berbuat apa
sih? Kok sampai harus ditakuti?” Ia sendiri bingung,
sampai akhirnya ia sadar bahwa yang ditakutinya hanya
satu, yaitu ‘takut melakukan kesalahan’.

Sinta lupa kata-kata John Maxwell yang berbunyi:
“Kesalahan terbesar yang kita perbuat dalam hidup ini
adalah takut membuat kesalahan”. Rasa ‘takut membuat
kesalahan’ ini ternyata paling banyak menghambat
kemajuan manusia. Seorang pelukis yang akan mulai
melukis tidak boleh merasa takut membuat kesalahan.
Kalau ia takut membuat kesalahan, apa jadinya dengan
hasil lukisannya? Jangan-jangan ia tidak akan pernah
mulai melukis.

Ketika berhenti kerja karena tidak cocok dengan
pemegang saham yang baru, Martin ingin memulai bisnis
baru di bidang perlengkapan komputer. Tapi berbulan-
bulan ia ragu-ragu karena takut gagal. Uang pesangon
yang akan dijadikan modal sudah mulai berkurang karena
terpakai untuk biaya hidup sehari-hari. Ia pun semakin
was-was. Memang ia takut gagal karena modalnya pas-
pasan. Tapi semakin ia menunda bisnisnya, maka modalnya
juga akan semakin berkurang. Martin harus bertindak
cepat.

Untunglah kemudian ia sadar bahwa ketakutannya harus
diatasi. Ia pun bertanya pada temannya yang sudah
berhasil di bidang yang sama. Ia mempelajari segala
seluk beluk bisnis itu lebih mendalam agar ia dapat
mengurangi kemungkinan risiko gagal. Akhirnya ia mulai
juga. Bulan ketiga ia sudah mendapat untung besar.
Tahun kedua ia sudah memiliki dua toko komputer di
Jakarta, bahkan tahun ini ia akan membuka dua toko lagi
di Tangerang dan Bekasi.

Rosa menunda-nunda keputusan untuk mengambil waralaba
sebuah restoran cepat saji dan membukanya di Bandung.
Dari hasil analisanya, ia yakin bahwa pasti restoran
itu laku karena lingkungan itu cukup ramai dan di situ
belum ada restoran cepat saji yang enak. Tapi ia takut
salah.

Empat bulan kemudian orang lain membuka waralaba
restoran tersebut di lingkungan yang sama. Ternyata
hasilnya sangat memuaskan. Tiap hari restoran itu
dipenuhi pelanggan. Life must go on! Ketika Rosa
menunda tindakannya karena takut salah, orang lain
telah mengambil kesempatan itu. Karena Sinta takut
melakukan kesalahan sehingga ia menolak menjadi pembawa
acara, orang lainlah yang memperoleh kesempatan untuk
belajar.

Isna harus menjadi pembicara di sebuah konferensi pers
dalam rangka peluncuran produk baru. Dalam acara
tersebut, Isna berusaha menjawab semua pertanyaan
sebaik mungkin. Rolan, rekan kerjanya, berkomentar di
belakang. “Dia bicaranya salah. Kalau saya mau, saya
bisa memojokkannya sekarang. Saya bisa mempermalukannya
di depan orang banyak.” Sungguh sangat disayangkan.
Bukannya mendukung atau melakukan hal lain yang lebih
bermanfaat, Rolan justru berpikir negatif. Jelas sekali
terlihat bahwa ia sebenarnya iri melihat Isna duduk di
meja depan sedangkan ia sendiri tidak kelihatan. Kalau
ia berpikiran benar, tidak mungkin ia mengucapkan kata-
kata yang merendahkan orang lain seperti itu. Untuk apa
ia mempermalukan Isna? Supaya ia sendiri kelihatan
hebat? Kelicikan hatinya sudah terlihat.

Sebaliknya Isna sangat positif. Ia tidak takut membuat
kesalahan. Mungkin ia pernah malakukan kesalahan, tapi
ia belajar agar kesalahan itu tidak terulang lagi. Ia
belajar dari kesalahan. Kini, apabila dibandingkan,
Isna jauh lebih unggul untuk tampil di depan umum
dibandingkan Rolan yang berpikiran negatif. Mungkin
Rolan dalam hati berpikir bahwa ia lebih baik daripada
Isna, tapi yang menentukan adalah orang lain bukan?
Pendengarlah yang lebih bisa merasakan dan melihat
perbedaan yang menyolok diantara keduanya. Fakta
membuktikan.

Rosa kemudian belajar dari pengalaman pahitnya untuk
tidak takut lagi melakukan kesalahan. Ia segera mencari
lokasi lain yang bagus dan membuka waralaba restoran
tersebut yang ternyata memang laku keras, meskipun
tidak sebagus pilihan pertamanya dulu. Tapi kini ia
tidak membiarkan rasa ‘takut membuat kesalahan’ itu
menghambat langkahnya. Ia meminimalisasi resiko dengan
persiapan yang matang, lalu segera bertindak.

Sinta pun kemudian sadar bahwa ketakutan itu hanya ada
dikepalanya. Hanya ada dalam pikirannya. Bukan sesuatu
yang nyata. Ia tinggal memilih untuk mengatasinya atau
menyerah pada pikiran negatif tersebut. Ia berjanji
pada dirinya bahwa ia akan mengajukan diri menjadi
pembawa acara seminar tahun depan. Ia tidak mau lagi
membiarkan kesempatan lewat tanpa dimanfaatkan. Karena
kalau ia tidak mau menggapai kesempatan, orang lain
yang akan meraihnya. Tidak perlu takut membuat
kesalahan! Go for it!

Sumber: Takut Membuat Kesalahan oleh Lisa Nuryanti,
Motivator dan Pemerhati Kepribadian

About Aurellia

Aku ingin jadi malaikat kecil yang hidup dalam keluarga kecil. Ingin membahagiakan Orang tua dengan segala kemampuan yang ku miliki. Anak sholeh Or sholehah,itu impianku. saat ku hadir dalam kerasnya dunia ini, aku akan selalu ada untuk kedua orang tuaku. terutama untuk Ibu ku (Dewi Uning Marhandhika).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s